AKTUALINFO | JAKARTA — Guncangan gempa bumi bertubi-tubi yang melumpuhkan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka sekaligus tantangan kemanusiaan yang berat. Jalur darat yang retak terbelah dan tertutup material tanah longsor membuat ribuan warga di kawasan terisolasi terancam krisis pangan jika bantuan terlambat tiba.
Menghadapi medan yang terputus, Perum Bulog mengambil langkah ekstrem demi memastikan tidak ada pengungsi yang terlewat dari bantuan.
Kolaborasi lintas instansi dikerahkan, mendedikasikan seluruh daya untuk menyalurkan beras ke titik-titik pengungsian paling terpelosok di Pulau Flores.
Fakta Logistik dan Strategi Penyaluran Ekstrem
Untuk menembus jalanan rusak parah di Manggarai dan Ende, Bulog bekerja sama dengan TNI-Polri mengandalkan sepeda motor. Sementara untuk wilayah terisolasi, jalur udara ditembus menggunakan helikopter BNPB dan pesawat perintis.
Gempa berdampak langsung pada 7 kabupaten (Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka) dengan catatan lebih dari 5.000 kali gempa susulan per 22 Agustus 2026.
Sebanyak 150.576 jiwa warga terdampak membutuhkan sekitar 1.890 ton beras untuk masa tanggap darurat awal selama 14 hari.
Kesiapan Stok Pangan dan Cadangan Movenas
Dirut Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan pasokan beras untuk bencana NTT dalam status sangat aman.
Total stok yang disiapkan mencapai 93.782 ton, gabungan dari stok riil lokal sebesar 26.336 ton yang tersebar di 46 unit gudang NTT, serta pasokan tambahan program Mobilisasi Nasional (Movenas) sebanyak 67.446 ton dari DKI Jakarta, Jatim, Sulselbar, dan NTB.
Bulog bahkan telah mengantisipasi skenario terburuk jika masa tanggap darurat diperpanjang hingga 10 kali lipat, dengan menyiapkan proyeksi cadangan khusus bencana hingga 18.500 ton.(*)