JAKARTA— Kabar duka menyelimuti keluarga besar Toraja setelah Marthen Tandi (30), seorang perantau asal Toraja, dilaporkan meninggal dunia di Australia pada Kamis, 26 Februari 2026 lalu. Kepergian Marthen yang begitu mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terlebih hingga kini penyebab pasti kematiannya masih belum diketahui.
Marthen diketahui pertama kali berangkat ke Australia dengan visa working holiday. Setelah itu, ia melanjutkan bekerja di salah satu perusahaan di Australia dan telah menetap selama kurang lebih empat tahun. Tiga tahun pertama dilaluinya dengan bekerja secara aktif, dan kini ia memasuki tahun keempat masa tinggalnya di negeri Kanguru tersebut sebelum kabar duka itu datang.
Informasi meninggalnya Marthen pertama kali diterima keluarga melalui jalur komunikasi terbatas. Kakaknya, Ruben Tandi Tondong, mengaku keluarga sangat terpukul sekaligus kebingungan karena tidak mengetahui harus mencari informasi resmi ke mana. Apalagi, keluarga ingin memastikan kronologi kejadian serta prosedur pemulangan jenazah ke Toraja, Indonesia.
Dalam kondisi penuh duka dan kebingungan itu, Ruben mengambil inisiatif menghubungi Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, untuk meminta bantuan membuka akses komunikasi dengan pihak terkait di Australia. Ini dilakukan Ruben karena mengetahui di media sosial dan group keluarga bahwa Frederik aktif membantu masyarakat Toraja di perantauan.
Frederik Kalalembang yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IkaTNus) merespons cepat dan langsung berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Australia serta pemerintah terkait guna memperoleh kejelasan informasi perihal kematian Marthen.
Frederik kemudian berkomunikasi dengan Atase Kepolisian Indonesia di Australia Brigjen Pol Tommy Dwianto dan langsung direspon untuk ditindaklanjuti terkait penyebab kematian warga Toraja tersebut.
Melalui perantara Frederik Kalalembang, keluarga akhirnya juga bisa mendapat informasi awal terkait kondisi jenazah Marthen. Saat ini penyelidikan masih dilakukan untuk mengetahui sebab musabab kematian Marthen. Jika sudah selesai penyedikan, jenazahnya baru akan diserahkan kepada keluarga melalui Atase Kepolisian.
Menurut keterangan keluarga, pada Senin pagi, 2 Maret 2026 ini, dijadwalkan pertemuan virtual melalui Zoom antara pihak keluarga, KBRI, dan kepolisian setempat di Australia. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memberikan penjelasan resmi terkait penyebab kematian serta langkah-langkah administratif yang harus ditempuh untuk proses pemulangan jenazah.
Frederik menegaskan bahwa dirinya akan terus proaktif membuka jalan komunikasi dan memastikan keluarga mendapatkan informasi yang jelas serta pendampingan yang layak. “Ini bukan sekadar urusan administratif, ini soal kemanusiaan. Keluarga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita akan kawal bersama agar prosesnya transparan dan sesuai prosedur,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan khusus kepada seluruh warga Toraja dan masyarakat Indonesia yang sedang merantau di luar negeri agar selalu menjaga komunikasi dengan keluarga dan komunitas. “Di perantauan, kita harus saling menguatkan dan saling mengabari. Jangan pernah merasa sendiri. Jika ada sesuatu yang terjadi, sekecil apa pun, segera informasikan kepada keluarga dan jejaring komunitas agar bisa segera ditangani,” kata Frederik.
Sementara itu, Ruben Tandi Tondong menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian dan respons cepat yang diberikan Frederik. “Kami sekeluarga sangat berterima kasih. Dalam kondisi seperti ini kami benar-benar bingung harus menghubungi siapa. Puji Tuhan, Bapak Frederik langsung merespons dan membantu membuka jalan komunikasi dengan KBRI. Setidaknya kami merasa tidak berjalan sendiri,” ucap Ruben, Senin (2/3/2026).
Ruben juga berharap agar proses klarifikasi penyebab kematian dan pemulangan jenazah dapat berjalan lancar sehingga almarhum Marthen bisa dimakamkan di kampung halaman dengan layak. Keluarga besar yang terdiri dari lima bersaudara kini menanti kejelasan sambil terus berdoa agar semua proses dipermudah.
Duka ini menjadi sebuah warning bahwa perjuangan di tanah rantau sering kali menyimpan cerita yang tak terduga. Solidaritas dan kepedulian antar sesama menjadi hal yang sangat berarti. Di tengah kesedihan, keluarga berharap dukungan doa dari masyarakat Toraja dan diaspora agar almarhum mendapat tempat terbaik, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan. (*)