BerandaNEWSRatusan Peserta Antusias, Frederik Kalalembang: Pancasila Harus Hidup di Tengah Perbedaan

Ratusan Peserta Antusias, Frederik Kalalembang: Pancasila Harus Hidup di Tengah Perbedaan

TORAJA — Pancasila tidak boleh berhenti sebagai materi seminar, slogan di ruang pertemuan, atau lima sila yang sekadar dihafalkan. Nilainya justru harus terlihat ketika masyarakat menghadapi perbedaan agama, organisasi, pandangan maupun pilihan.

Pesan tersebut ditekankan Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, dalam rangkaian Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila yang digelar selama dua hari di Tana Toraja dan Toraja Utara, 25–26 September 2026.

Hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut dua perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, yakni Dr. Ir. Prakoso, M.M., Analis Kebijakan Ahli Utama, serta Galuh Ibrahim, S.E., M.M., Analis Kebijakan Ahli Madya. Kehadiran keduanya turut memperkaya pembahasan mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dasar negara, tetapi terus diterjemahkan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Dalam pemaparannya, Dr. Ir. Prakoso, M.M. menekankan pentingnya membawa Pancasila lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar membuat masyarakat mengenal dan menghafal lima sila, tetapi bagaimana nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, gotong royong dan keadilan benar-benar tercermin dalam sikap sehari-hari. Di tengah derasnya informasi dan semakin terbukanya ruang perbedaan, Pancasila harus menjadi titik temu yang menjaga masyarakat tetap saling menghormati, bekerja bersama dan tidak mudah terpecah hanya karena perbedaan pandangan. Nilai musyawarah dan gotong royong memang ditempatkan dalam publikasi resmi BPIP sebagai bagian inti Pancasila yang mampu menyatukan keberagaman

Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, Hadir dalam rangkaian Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila

Rangkaian pertama berlangsung di Hotel Grand Metro, Tana Toraja, Jumat (25/9/2026). Kegiatan turut dihadiri unsur Dewan Pertimbangan Presiden, yakni Fikroh Amali Fahmi A., Analis Kebijakan Madya; Andhi Ilham Permana, Analis Kebijakan Madya; serta Ria Andayani, Analis Kebijakan Muda. Hadir pula mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, antara lain GMKI, GMNI, PMKRI, Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, Pemuda Katolik, NU, Pemuda Pancasila, FKUB serta berbagai elemen masyarakat.

Sehari kemudian, Sabtu (26/9/2026), rangkaian kegiatan berlanjut di Hotel Drij, Toraja Utara. Ratusan masyarakat mengikuti dua rangkaian kegiatan tersebut dengan antusias. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai unsur Cipayung, BEM dan himpunan mahasiswa, organisasi mahasiswa daerah, organisasi kepemudaan lintas agama dan kelompok, BPS Gereja Toraja, unsur kemasjidan, FKUB Toraja Utara hingga Relawan JFK. Keberagaman peserta menjadi gambaran bahwa perbedaan identitas dan organisasi tidak menghalangi masyarakat untuk bertemu dalam satu ruang dan membicarakan kepentingan bersama.

Pancasila Diuji Saat Perbedaan Muncul, Bukan Saat Semua Sepakat

Frederik menegaskan, keberhasilan menanamkan nilai Pancasila tidak semestinya hanya diukur dari seberapa sering masyarakat berbicara mengenai persatuan. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana persaudaraan tetap terjaga ketika perbedaan benar-benar muncul. “Kita boleh berbeda pendapat dan pilihan, tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Indonesia jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegasnya. Karena itu, mahasiswa, pemuda, tokoh agama dan organisasi masyarakat diharapkan menjadi jembatan ketika terjadi perbedaan, bukan justru memperlebar jarak di tengah masyarakat.

Para perserta antusias mengikuti kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila

Ia mengingatkan bahwa Pancasila sendiri lahir melalui perjalanan sejarah, dialog dan kesediaan para pendiri bangsa untuk mencari titik temu di tengah perbedaan pemikiran. Semangat itulah yang menurut Frederik tetap relevan hingga sekarang. Perbedaan tidak harus dihapus, tetapi harus dikelola dengan musyawarah, saling menghormati dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Frederik karena itu mengajak generasi muda dan para relawan membawa Pancasila keluar dari ruang-ruang pertemuan menuju kehidupan sehari-hari. Menghormati tetangga yang berbeda keyakinan, tidak merendahkan orang karena berbeda pilihan, membantu masyarakat tanpa melihat latar belakang, menjaga rumah ibadah, menyelesaikan masalah melalui musyawarah hingga tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi merupakan bentuk sederhana pengamalan Pancasila. “Pancasila akan kuat bukan karena sering kita ucapkan, tetapi karena nyata kita amalkan,” ujarnya.

Antusiasme Ratusan Peserta Jadi Momentum Membumikan Pancasila

Antusiasme ratusan peserta dalam dua kegiatan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk semakin membumikan nilai Pancasila di tengah masyarakat. Sejumlah peserta mengapresiasi forum yang mempertemukan kelompok dengan latar belakang berbeda dalam suasana dialog dan kebersamaan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk kembali memahami Pancasila, tetapi juga momentum untuk memperkuat toleransi, gotong royong, musyawarah, kepedulian sosial dan penghormatan terhadap perbedaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Toraja.

Sejumlah organiasi kepemudaan juga turut ikut dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila

Frederik juga mengingatkan bahwa tantangan mengamalkan Pancasila kini semakin kompleks, terutama di tengah derasnya arus informasi dan media sosial. Kebebasan menyampaikan pendapat harus diiringi tanggung jawab. Menurutnya, ruang digital jangan berubah menjadi tempat menyebarkan fitnah, kebencian atau mempertajam perbedaan. Generasi muda justru mempunyai peran besar menjadikan media sosial sebagai ruang bertukar gagasan secara sehat, mengedepankan fakta dan tetap menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan.

Kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila di Toraja Utara

Melalui rangkaian kegiatan di Tana Toraja dan Toraja Utara tersebut, Frederik berharap antusiasme yang muncul tidak berhenti ketika acara selesai. Relawan, mahasiswa, pemuda, tokoh agama dan organisasi masyarakat diharapkan membawa semangat tersebut ke lingkungan masing-masing. “Mari rawat persatuan, jaga toleransi, tegakkan keadilan dan wujudkan gotong royong. Pancasila bukan hanya warisan sejarah, tetapi tanggung jawab kita hari ini dan untuk masa depan Indonesia,” pungkas Frederik. (*)

RELATED ARTICLES

POPULER