JAKARTA – Harga emas dunia melonjak tajam setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) atau non-farm payrolls (NFP) dirilis lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan menahan kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (2/7/2026) ditutup di level US$4.122,80 per troy ons, naik 2,3% dibandingkan sehari sebelumnya. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif emas yang telah menguat sekitar 2,8% dalam dua hari berturut-turut, sekaligus menjadi level penutupan tertinggi sejak 22 Juni 2026.
Pada perdagangan Jumat (3/7/2026) pukul 06.10 WIB, harga emas kembali menguat tipis menjadi US$4.125,47 per troy ons atau naik 0,07%.
Penguatan emas juga didorong oleh melemahnya indeks dolar Amerika Serikat sebesar 0,5% ke level 100,856, yang merupakan posisi terendah dalam sembilan hari terakhir. Pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan perekonomian hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja baru pada Juni, jauh di bawah proyeksi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat berada di 4,2%.
Melemahnya data ketenagakerjaan tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin kecil. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 51%, dari sebelumnya 66% sebelum data tenaga kerja diumumkan.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menilai data ketenagakerjaan yang lebih lemah menjadi katalis utama kenaikan harga emas.
“Angka penciptaan lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan semakin kecil kemungkinan kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini. Emas umumnya berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah,” ujarnya.
Selain faktor suku bunga, permintaan terhadap emas juga tetap kuat. World Gold Council (WGC) melaporkan bank-bank sentral dunia menambah cadangan emas bersih sebanyak 41 ton sepanjang Mei 2026, mencerminkan masih tingginya minat terhadap aset lindung nilai.
Minat investor juga terlihat dari kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, yang meningkat menjadi 795,31 ton, tertinggi sejak awal Agustus.
Sejumlah analis menilai prospek emas masih positif, terutama jika tren pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global terus berlanjut. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir, harga emas berpotensi memasuki fase konsolidasi sebelum melanjutkan penguatan berikutnya. (**)