Oleh: Irjen Pol (Purn) Drs. Frederik Kalalembang
Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat
Ada saatnya sebuah jabatan tinggal menjadi kenangan. Ruangan yang dahulu ramai kini ditempati orang lain. Telepon yang pernah berdering sepanjang hari perlahan kehilangan suaranya. Mereka yang dulu datang silih berganti, kini satu per satu menjauh, seolah keakraban dahulu ikut berakhir bersama kekuasaan yang dahulu pernah mengisi hari harimu.
Di tengah kesunyian itu, mungkin engkau mulai merindukan wajah-wajah lama itu. Sahabat yang pernah menemanimu, senior yang dahulu membimbingmu, atau rekan yang bersamamu melewati masa-masa sulit. Ada keinginan untuk kembali menyapa, sekadar bertanya kabar, atau duduk bersama mengenang perjalanan.
Namun, sebelum tangan keriputmu akan meraih telepon, barangkali ada satu pertanyaan yang patut direnungkan, ketika engkau berada di puncak kekuasaan, bagaimana dahulu engkau memperlakukan mereka?
Cobalah Ingat, sebelum pangkat dan jabatan membuat namamu dihormati, ada orang-orang yang telah lebih dahulu menghargaimu. Ada senior yang membuka jalan, sahabat yang menguatkan langkah, rekan yang membantu tanpa pamrih, dan mereka yang percaya pada kemampuanmu ketika dunia belum banyak mengenal siapa dirimu.
Mereka mengenalmu bukan karena kedudukanmu, melainkan karena dirimu sendiri.
Tetapi ketika jabatan semakin tinggi, apakah mereka masih memiliki tempat yang sama di hatimu?
Mungkin ada pesan yang sengaja kau abaikan. Ada telepon yang tak pernah kau balas. Ada sahabat yang berkali-kali ingin bertemu, tetapi selalu pulang bersama janji yang tak kunjung ditepati.
Padahal, belum tentu mereka datang membawa kepentingan. Barangkali mereka hanya rindu berbincang, ingin mendengar kabarmu, atau sekadar memastikan bahwa persaudaraan yang dahulu begitu dekat tidak ikut berubah bersama tingginya pangkatmu.
Namun, ketika sapaan terus bertepuk sebelah tangan, orang akhirnya belajar untuk tidak lagi mengetuk pintu yang sama.
Ada senior yang memilih diam, bukan karena kehilangan kasih sayang, melainkan karena tak ingin merendahkan dirinya dengan terus meminta waktu. Ada sahabat yang perlahan menjauh, bukan karena melupakan persaudaraan, tetapi karena merasa kehadirannya tak lagi dibutuhkan. Ada pula junior yang tetap menaruh hormat, meski dalam hatinya tersimpan kecewa karena pengabdian dan kemampuannya tak pernah mendapat tempat.
Betapa sering manusia kehilangan orang-orang yang tulus, bukan karena pertengkaran, melainkan karena terlalu lama membiarkan mereka merasa tidak berarti.
Sungguh menyesakkan, ketika orang-orang yang pernah berjasa mulai tersisih, ruang di sekitar kekuasaan justru kerap dipenuhi wajah-wajah yang pandai memuji. Mereka yang selalu membenarkan dianggap paling setia, sementara suara jujur perlahan kehilangan tempat.
Kedekatan angkatan dan kelompok sendiri terkadang lebih diutamakan daripada kemampuan. Mereka yang pandai mengambil hati mendapat kesempatan, sementara yang bekerja sungguh-sungguh dan berprestasi harus terus menunggu pengakuan.
Mungkin saja saat berkuasa, semua itu terasa biasa. Kesibukan menjadi alasan, jabatan menjadi jarak, dan kewenangan tanpa disadari mengubah cara kita memandang orang lain.
Hingga tiba hari ketika semuanya harus ditinggalkan.
Orang-orang yang dahulu mengelilingimu mulai menghilang. Sebagian mungkin menjauh karena tak lagi memiliki kepentingan. Sebagian lainnya menjaga jarak karena khawatir dianggap bagian dari kelompok kekuasaanmu yang telah berlalu.
Tentu ada kepedihan yang menyayat hati ketika perhatian yang dahulu begitu mudah diperoleh kini terasa semakin langka.
Tetapi mungkin dari situlah engkau mulai memahami sesuatu yang dahulu tidak sempat kau rasakan. Yakni betapa perihnya menjadi orang yang diabaikan, betapa sunyinya menunggu kabar yang tak pernah datang, dan betapa menyakitkannya ketika persaudaraan seolah tak lagi memiliki arti.
Kadang, kehidupan mempertemukan kita dengan perasaan yang dahulu pernah kita tinggalkan di hati orang lain.
Maka, ketika jabatan telah berakhir dan kesunyian mulai menjadi teman, jangan hanya meratapi orang-orang yang kini menjauh. Cobalah mengingat siapa saja yang dahulu pernah engkau biarkan pergi dengan perasaan serupa hingga bahkan memendam sakit hati.
Mereka juga memiliki hati. Mereka mungkin kecewa, tetapi tidak semuanya menyimpan kebencian. Sebagian barangkali masih merawat kenangan baik dan berharap suatu hari engkau kembali menyapa, seperti ketika pangkat belum menciptakan jarak di antara kalian.
Tak perlu menunggu alasan besar untuk memperbaiki hubungan. Hubungilah mereka tanpa membawa kepentingan. Tanyakan kabarnya dengan tulus. Dengarkan ceritanya tanpa tergesa-gesa. Dan jika pernah mengabaikan, jangan biarkan gengsi lebih tinggi daripada kerendahan hati untuk meminta maaf.
“Maaf, dahulu saya kurang menyediakan waktu. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari perjalanan saya.”
Mungkin kalimat sederhana itu tidak segera menghapus luka. Tidak semua persaudaraan dapat kembali seperti semula, sebab kepercayaan yang pernah terluka membutuhkan waktu dan ketulusan untuk tumbuh kembali. Namun, setidaknya ada pintu hati yang mulai diketuk dengan cara yang lebih manusiawi.
Bagi mereka yang hari ini masih memegang amanah, renungan ini kiranya menjadi pengingat yang lembut, sebelum waktu menghadirkan pelajaran yang sama.
Jangan biarkan tingginya jabatan membuatmu lupa menundukkan hati. Jangan sampai kesibukan menjadi alasan untuk memutus kehangatan dengan orang-orang yang pernah berjalan bersamamu.
Luangkan waktu bagi senior yang dahulu membimbingmu, rekan yang pernah berjuang bersamamu, sahabat yang tetap setia, serta junior dan anggota yang bekerja menopang tanggung jawabmu.
Tidak semua penghormatan harus dibalas dengan kedudukan. Tidak semua persaudaraan harus dibayar dengan jabatan. Cukuplah perlakukan mereka dengan layak, dengarkan dengan hati, dan berikan kesempatan secara adil kepada siapa pun yang memiliki kemampuan.
Sebab, menjadi pemimpin yang manusiawi bukan berarti mengistimewakan orang-orang terdekat. Justru kebesaran seorang pemimpin terlihat ketika ia mampu menjaga persaudaraan tanpa mengorbankan keadilan, menghargai jasa tanpa menutup kesempatan bagi yang berprestasi, serta tetap terbuka terhadap nasihat meskipun datang dari mereka yang tak memiliki kekuasaan.
Sesekali, balaslah pesan yang tertunda. Kembalikan telepon yang belum sempat terjawab. Terimalah sahabat lama yang datang hanya untuk menyapa. Jangan sampai seseorang harus menunggu engkau kehilangan jabatan untuk kembali merasakan kehangatan persaudaraan.
Karena setinggi apa pun seseorang mendaki, akan tiba waktunya ia turun. Seberapa besar pun kewenangan yang dimiliki, suatu hari amanah itu akan berpindah ke tangan orang lain.
Dan ketika hari itu datang, engkau mungkin akan menyadari bahwa yang paling berharga bukan lagi pangkat yang pernah disandang, ruangan yang pernah ditempati, atau banyaknya orang yang dahulu memberi hormat.
Yang tersisa adalah nama baik, kenangan, dan jejak kebaikanmu dalam hati mereka yang pernah singgah dan membekas.
Kelak, engkau mungkin hanya ingin disapa tanpa pangkat disebut, dikunjungi tanpa jabatan diperhitungkan, dan ditemani tanpa ada kepentingan yang diharapkan.
Engkau ingin diterima bukan karena siapa dirimu dahulu, melainkan karena bagaimana engkau pernah memperlakukan orang lain.
Betapa indahnya apabila seorang pemimpin, setelah segala kewenangannya berakhir, masih dikenang dengan ungkapan yang lahir dari ketulusan:
“Beliau memang tegas, tetapi adil. Beliau menghargai yang pernah berjasa, memberi kesempatan kepada yang mampu, dan tidak melupakan kami meskipun kedudukannya begitu tinggi.”
Barangkali itulah penghormatan yang sesungguhnya. Penghormatan yang tidak lahir karena rasa takut, tidak bergantung pada kewenangan, dan tidak ikut hilang ketika jabatan berakhir.
Maka ingatkah, selagi masih berada di atas, jangan lupakan mereka yang pernah menemanimu mendaki. Jangan baru mencari tangan-tangan yang dahulu kau abaikan ketika langkahmu mulai menuruni tangga kekuasaan.
Sebab, jabatan hanya membuat orang menghormatimu untuk sementara, tetapi ketulusan membuat mereka tetap menghargaimu selamanya.
Dan ketika kelak engkau tak lagi memiliki apa-apa untuk ditawarkan selain persahabatan, semoga masih ada orang-orang yang membuka pintunya dengan hangat, menyediakan tempat untukmu, lalu berkata tanpa sedikit pun berubah:
“Mari duduk, Saudaraku. Sudah lama kita tidak bercerita.”
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak orang yang menyambutmu ketika berkuasa yang menentukan kemuliaanmu, melainkan seberapa banyak hati yang masih menerimamu dengan tulus setelah kekuasaan itu tiada. (*)