AKTUALINFO | GAYA HIDUP – Menjalani hidup hemat bukan berarti harus berhenti nongkrong, membeli barang yang disukai, atau menikmati hiburan. Bagi Generasi Z atau Gen Z, hidup hemat justru bisa menjadi cara untuk tetap menikmati kehidupan sekaligus lebih bijak mengatur keuangan.
Di tengah maraknya tren lifestyle, coffee shop, online shopping, traveling, hingga berbagai layanan digital, godaan untuk mengeluarkan uang semakin besar. Belum lagi kemudahan pembayaran melalui dompet digital dan sistem paylater yang membuat transaksi terasa begitu mudah.
Masalahnya, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering kali tidak terasa. Secangkir kopi hari ini, pesan makanan melalui aplikasi besok, lalu belanja karena tergoda promo. Pada akhir bulan, saldo rekening pun tiba-tiba menipis.
Karena itu, hidup hemat ala Gen Z bukan tentang menjadi pelit. Lebih tepatnya, bagaimana mengatur uang agar tetap bisa menikmati hidup tanpa mengorbankan kebutuhan dan masa depan.
1. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Langkah pertama untuk hidup hemat adalah memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi, seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, pulsa atau internet, serta kebutuhan pekerjaan.
Sementara itu, keinginan lebih berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Saya benar-benar membutuhkan ini atau hanya sedang menginginkannya?”
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsif.
2. Terapkan Aturan Tunggu Sebelum Belanja
Salah satu kebiasaan Gen Z yang bisa diperbaiki adalah membeli barang karena sedang FOMO atau takut ketinggalan tren.
Melihat produk baru di media sosial memang bisa membuat seseorang merasa harus segera memilikinya. Apalagi jika terdapat tulisan “stok terbatas”, “flash sale”, atau “diskon hanya hari ini”.
Jangan langsung checkout.
Gunakan aturan sederhana, misalnya tunggu 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Jika setelah satu hari barang tersebut masih dianggap penting, barulah pertimbangkan untuk membelinya.
Cara ini cukup efektif untuk menghindari pembelian impulsif.
3. Nongkrong Boleh, Tapi Jangan Setiap Hari
Bagi banyak Gen Z, nongkrong bersama teman merupakan bagian dari kehidupan sosial. Mengurangi nongkrong bukan berarti harus kehilangan pertemanan.
Kuncinya adalah mengatur frekuensinya.
Tidak harus selalu bertemu di kafe mahal. Sesekali bisa memilih tempat yang lebih terjangkau, berkumpul di rumah teman, memasak bersama, atau sekadar berjalan-jalan di ruang publik.
Dengan begitu, aktivitas sosial tetap berjalan tanpa membuat pengeluaran membengkak.
4. Manfaatkan Promo dengan Bijak
Promo memang menarik. Namun, promo tidak selalu berarti hemat.
Jika membeli barang seharga Rp100 ribu hanya karena mendapatkan diskon 30 persen, padahal barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan, tetap saja uang keluar.
Gunakan promo hanya untuk kebutuhan yang memang sudah direncanakan.
Prinsipnya sederhana:
Jangan membeli sesuatu hanya karena sedang diskon. Beli karena memang membutuhkan, lalu manfaatkan diskonnya.
5. Kurangi Kebiasaan “Checkout Karena Bosan”
Belanja online menjadi salah satu godaan terbesar di era digital.
Saat bosan, stres, atau sekadar membuka aplikasi marketplace, seseorang bisa dengan mudah menemukan berbagai produk menarik. Dari sinilah kebiasaan scrolling dapat berubah menjadi checkout.
Cobalah menghapus notifikasi promo yang tidak diperlukan. Bisa juga mengeluarkan barang dari keranjang dan menunggu beberapa hari sebelum benar-benar membelinya.
Kalau setelah beberapa hari masih merasa perlu, silakan dipertimbangkan kembali.
6. Jangan Terjebak Gaya Hidup “Harus Ikut Tren”
Gen Z hidup di era ketika kehidupan orang lain dapat terlihat setiap hari melalui media sosial.
Teman membeli gadget baru, influencer menggunakan pakaian tertentu, atau seseorang pergi liburan ke tempat populer. Tanpa disadari, muncul keinginan untuk mengikuti gaya hidup tersebut.
Padahal kondisi finansial setiap orang berbeda.
Tidak perlu memaksakan diri hanya demi terlihat mengikuti tren. Memiliki gaya hidup sesuai kemampuan justru menunjukkan bahwa seseorang mampu mengendalikan keuangannya.
Keren bukan berarti paling mahal. Keren adalah ketika mampu hidup sesuai kemampuan sendiri.
7. Buat Anggaran Bulanan yang Sederhana
Tidak perlu menggunakan aplikasi keuangan yang rumit.
Cukup catat berapa pemasukan setiap bulan, kemudian bagi menjadi beberapa kategori, misalnya:
- Kebutuhan sehari-hari
- Transportasi
- Hiburan dan nongkrong
- Tabungan
- Dana darurat
- Keperluan lainnya
Dengan pembagian tersebut, kita bisa mengetahui batas pengeluaran.
Jika anggaran nongkrong bulan ini sudah habis, berarti waktunya menahan diri sampai periode berikutnya.
8. Biasakan Menabung di Awal, Bukan di Akhir
Kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu uang tersisa untuk kemudian ditabung.
Biasanya, uang tersebut justru habis terlebih dahulu.
Karena itu, cobalah mengubah kebiasaan. Begitu menerima gaji, uang saku, atau penghasilan, langsung sisihkan sebagian untuk tabungan.
Tidak harus besar.
Yang terpenting adalah konsisten. Menabung Rp10 ribu atau Rp20 ribu secara rutin jauh lebih baik daripada memiliki target besar tetapi tidak pernah dilakukan.
9. Hati-Hati dengan PayLater
Kemudahan pembayaran digital memang memberikan banyak manfaat. Namun, fasilitas paylater juga perlu digunakan secara bijak.
Barang yang sebenarnya belum mampu dibeli bisa terasa “terjangkau” karena pembayarannya dicicil.
Masalah muncul ketika cicilan menumpuk.
Sebelum menggunakan paylater, pastikan memahami total biaya, tanggal jatuh tempo, serta kemampuan membayar. Jangan sampai penghasilan bulan depan sudah habis untuk membayar keputusan belanja bulan ini.
10. Cari Hiburan yang Murah atau Gratis
Hidup hemat tidak berarti hidup membosankan.
Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan dengan biaya rendah, seperti olahraga, membaca buku, memasak, menonton film di rumah, membuat konten, bermain game, belajar keterampilan baru, atau menikmati ruang terbuka.
Bahkan, beberapa aktivitas yang awalnya dilakukan untuk menghemat uang bisa berubah menjadi hobi produktif.
11. Gunakan Barang Sampai Benar-Benar Dibutuhkan untuk Diganti
Budaya membeli barang baru karena bosan dengan barang lama juga bisa menguras keuangan.
Ponsel, laptop, pakaian, sepatu, tas, hingga berbagai aksesori tidak harus selalu diganti hanya karena muncul model terbaru.
Selama barang masih berfungsi dengan baik, gunakan semaksimal mungkin.
Menggunakan barang lebih lama juga merupakan bentuk konsumsi yang lebih bijak.
12. Tetap Sisihkan Uang untuk “Self Reward”
Hidup hemat bukan berarti semua uang harus ditabung.
Tetap berikan ruang untuk menikmati hasil kerja sendiri. Misalnya, menyisihkan sejumlah uang setiap bulan untuk self reward, makan bersama teman, membeli buku, menonton konser, atau melakukan aktivitas yang disukai.
Dengan adanya anggaran hiburan, kita tidak merasa sedang “menghukum diri sendiri” ketika berhemat.
Kuncinya adalah terencana, bukan impulsif.
Hemat Bukan Berarti Pelit
Pada akhirnya, hidup hemat ala Gen Z bukan tentang siapa yang paling sedikit mengeluarkan uang.
Hidup hemat adalah kemampuan menentukan mana yang penting, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak perlu dibeli.
Gen Z tetap bisa nongkrong, traveling, membeli barang yang disukai, menikmati hiburan, dan menjalani kehidupan sosial. Bedanya, semua dilakukan dengan perencanaan dan disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Karena tujuan menghemat uang bukan sekadar memiliki saldo rekening yang lebih besar.
Lebih dari itu, hidup hemat adalah tentang memiliki kendali atas uang, sehingga uang yang dimiliki dapat digunakan untuk hal-hal yang benar-benar berarti, termasuk pendidikan, pengalaman, investasi, dana darurat, dan rencana masa depan.
Jadi, tetap boleh healing. Tetap boleh nongkrong. Tetap boleh jajan. Tapi jangan sampai dompet yang ikut “healing” sebelum akhir bulan.(*)